December 24, 2008

Lamb of God


Lamb of God, adalah sebuah nama yang muncul ketika sebuah lembaga survey terkenal di Indonesia, bernama AC Nielsen menerbitkan Laporan berjudul *”SURVEI MUSIK ROCK di JAKARTA” **di tahun 2006 lalu. Menurut laporan di dalam buku ini anak muda di SMP dan SMA di Jakarta sebanyak 84.7%, mengenal dan menyukai band ini.Band ini juga disebut sebagai pelopor genre baru dari scene Metal yang disebut Metalcore yang merebak digandrungi oleh anak muda di seluruh dunia, tak lupa di Indonesia.*

Lamb Of God mulai terbentuk di tahun 1990 dan sebenarnya pada awalnya dibentuk dari keisengan Mark Morton, Chris Adler,dan John Campbell dalam mengisi waktu luang semasa kuliah di *Virginia ommonwealth University* . Mereka tinggal di satu asrama dan sering berkumpul dan berlatih bersama membawakan lagu lagu Slayer, Pantera, Metallica secara instrumental tanpa vokalis. Setelah mereka lulus, mereka sepakat untuk membangun band ini, dengan anggota baru bernama Randi Blythe sebagai Vokalis dan mereka merilis demo pertama mereka di tahun 1995. Respon dari *scene *metal yang ‘merindukan’ jenis band dengan musik ala Pantera dengan beat2x groovy terjawab sudah, dan lahirlah legenda baru dari ”The New Wave of American Heavy Metal”

Album pertama mereka *New American Gospel* dan diikuti oleh *As The Palaces burns* laris di minggu pertama dirilisnya album ini bahkan menempati posisi chart Billboard selama beberapa pekan. Sehingga Epic Records, sebuah major label di Amerika Serikat yang juga banyak menaungi banyak artis rap, r&b menarik Lamb of God menjadi salah satu artis mereka dengan ditandai dirilisnya album* Ashes the Wake*Album inilah yang semakin mengangkat pamor Lamb of God di scene musik metal dunia karena Epic records merupakan label yang lebih besar dari label mereka sebelumnya, Prosthetic records. Ashes the wake tercatat langsung terjual 35.000 keping cd di minggu pertama penjualannya dan langsung menduduki peringkat 27 di Billboard chart 200 untuk beberapa pekan. Suksesnya Lamb of God diikuti dengan berbagai penghargaan, diantaranya sebagai *2nd best Album of the Year* oleh majalah musik berpengaruh *Revolver*, dan *Best Music Video *oleh MTV2 yang khusus menyiarkan musik rock dan metal.

*Sacrament*, adalah judul album berikutnya yang semakin melambungkan nama Lamb of God ke jajaran metal elit dunia, album yang berhasil menarik perhatian kalangan metal dunia, balik dari kalangan pendengar yang menyukai thrash metal, progressive metal dan extreme metal. Album yang cukup fenomenal ini langsung menduduki peringkat ke 8 di chart billboard 200 dan terjual lebih dari 65.000 CD di minggu pertama penjualan CD ini, sampai sekarang konon telah terjual hamper 500.000 keping CD di seluruh dunia. Dan dari album inilah Lamb of God menjadi *headliner* di berbagai metalfest diseluruh dunia , seperti Ozzfest, Sound of the Underground, Unholy Alliance bersama *Slayer* , Gigantour dengan *Megadeth,* juga akhir tahun 2008 ini, Lamb of God didaulat oleh Metallica untuk bersama melakukan promosi album *Death Magnetic*, karena pihak management Metallica mempertimbangkan dari sekian banyak band yang berpengaruh di scene musik metal dunia, hanya Lamb of God yang pamornya kini setingkat dengan mereka, karena . Lamb of God dinominasikan dalam penghargaan yang prestisius *GRAMMY AWARDS*sebagai best metal performance di tahun 2007 lalu.Pertimbangan ini juga didasari dari berhagai review, kritik dan pendapat di berbagai media massa salah satunya adalah drummer mereka, Chris Adler yang terpilih sebagai drummer terbaik versi majalah *Metal hammer* yang berdasarkan dari survey pembaca. Dan dari survey pembaca itulah Lamb of God ditasbihkan sebagai the best metal band di tahun 2007 , oleh majalah Metal Hammer yang terkenal paling berpengaruh di *scene *metal dunia.

Baca di sini........

December 6, 2008

THE USED

Untuk kalangan pecinta musik emo, siapa sih yang ngga kenal The USED?! Sampai-sampai ada yang berpledoi: “bukan anak emo kalo ngga tau The USED”. Hahaha… Resminya band asal Utah, USA ini baru terbentuk Januari 2001. Namun para personilnya sudah malang melintang di dunia permusikan sejak awal 90-an. Maka tak heran bila nama The USED langsung melambung sejak kehadiran album pertamanya (self-titled, Reprise Records, 2002), lewat genre baru yang banyak orang labeli sebutan “emo”, yaitu term baru dari inovasi hardcore/punk dengan unsur vokal merdu yang tradisional di part-part lagunya. Genre emo sendiri baru mewabah di Indonesia sekitar 3 tahun belakangan. Sebagai wujud apresiasi, akhirnya promoter JAVA Musikindo bersama Fruit Tea Star Music menggelar konser perdana “gods of emo” tersebut di Indonesia pada 13 Agustus kemarin.


Sebelumnya ada pertimbangan penting mengenai harga tiket yang tergolong muahal (untuk konser musik kalangan kawula muda), yaitu: Rp 650.000,- (festival) & Rp. 550.000,- (tribun). Apalagi di Agustus ini JAVA juga menggelar serangkaian 3 konser band mancanegara (Jakarta Jam!, The Used, Panic! At The Disco) dengan nominal tiket yang sama. Hiks! Akhirnya, beberapa hari sebelum hari H, tiket konser The USED diturunkan (hampir) separuh harga, menjadi: Rp 350.000,- (festival) & Rp. 300.000,- (tribun). Sedangkan bagi yang terlanjur membeli tiket pre-sale, duit lebihnya akan dikembalikan di lokasi konser. Maka, mulai sore hari itu ribuan massa terus mengalir menuju Tennis Indoor Senayan, yang semuanya memiliki niat yang sama: menonton The USED! Hampir 3000 pengunjung harus rela menunggu showtime yang baru dimulai jam 8:15 malam. Lalu semua lampu dipadamkan, terlihat ruangan gedung gelap gulita kecuali tata lampu kecil berkedip-kedip menyoroti tubuh personil. Sontak lengkingan penonton bersorak-sorai menyebut nama personil The USED, yang terdiri dari Bert McCracken (vokal), Quinn Allman (gitar/beking vokal), Jeph Howard (bass/beking vokal), & Dan Whitesides (dram) – sebagai pengganti dramer lama Branden Steineckert.


Salah satu single dari album terbarunya Lies for the Liars (Reprise Records, 2007), “The Bird and The Worm” membuka panggung dengan versi singkat – juga tanpa unsur orkes & choir seperti versi aslinya. Tak ada yang menduga kalau lagu yang bernuansa lirih dan gelap itu ditempatkan pada awal setlist. Biasanya kan, trigger sebuah show band rock – walau Bert juga mengklaim The USED ini “band hardcore” – lebih memilih beat lagu yang dapat memicu adrenalin audiens. Atau memang sudah diintruksikan dari promoter sendiri?! Ternyata, setiap pengunjung juga diberi “peringatan” lebih dulu yang tertera dibalik tiket, bahwa “Tidak diperkenankan Moshing, Bodysurfing,…”. Oh my Dog! Apa ini ngga konyol kedengarannya? Biar kami perjelas di sini, bahwa “setiap jenis musik memiliki tarian/dansa tersendiri”. Mulai dari hardcore, punk, ska, metal, sampai dangdut sekalipun, ada dansa khasnya. Justru hal-hal tersebut adalah elemen yang tidak terpisahkan dari setiap show musik, selama juga ngga merugikan orang lain. Ah, masa sih saya mesti bilang, kalo promoter harusnya banyak belajar lagi tentang dunia musik anak muda… Hahaha. Selanjutnya crowds baru diliarkan lewat lagu “Take it Away” dari album kedua In Love and Death (Reprise Records, 2004). Setelah empat lagu pertama, selesai “I Caught Fire (In Your Eyes)”, The USED mengisi improvisasi sekitar 5 menitan. Improvisasi lain pun juga dilakukan di sela-sela pertengahan show. Ada juga 3 lagu (“The Taste of Ink”, “All That I’ve Got”, “Buried Myself Alive”) yang mereka mainkan secara medley kaya kereta gandeng hehehe…


Tapi saya perhatikan, kenapa lightning panggung begitu minimal berpijar. Atau memang ini trik untuk meminimalis “pencurian” dokumentasi penonton, walau cuma menggunakan HP?! Background panggung pun tanpa terpampang banner band. Tak ada embel-embel menghiasi panggung selain personil The USED sendiri. Sangat disayangkan untuk band berkelas dunia seperti The USED, konsernya terlihat begitu konvensional. Berbeda dengan kawan band seperjuangan My Chemical Romance yang begitu megah di setiap pertunjukannya. Interaksi Bert dengan para penonton cukup komunikatif. Meski sejak beberapa awal lagu, vokalis yang selalu khas memakai sarung tangan ini selalu menakuti-nakuti dengan bilang: “ini lagu terakhir kami”, candanya. Penonton pun bersorak protes sambil mengacungkan jari-jari tengahnya. Akhirnya, sampai lagu “Hospital” yang berposisi ke-13, Bert cs mereka benar-benar hengkang dari panggung. Namun sampling suara sirene terus berjalan hingga personil The USED hadir kembali. Crowds pun memanjatkan doa-doa encore secara berjamaah. Hihihi…

Setelah jeda kurang lebih 10 menit, hanya Bert dan Quinn tampil duo lalu menyejukan massa lewat “On my Own” yang diinstrumenkan dengan gitar akustik. Singalong pun menemani lagu tersebut dari awal hingga selesai. Selanjutnya; “it’s gonna be your last chance…”, jelas Bert sebelum menutup pertunjukan. Kerumunan yang tadinya sudah terlihat tenang, kembali rusuh saat “A Box Full of Sharp Objects” digeber sebagai lagu terakhir. Konser yang berdurasi 1 setengah jam, rasanya belum memaksimalkan kepuasan penonton. Ada pula yang merasa kecewa karena beberapa hits lawasnya tidak dilantunkan, seperti: “Blue and Yellow”, “Hard to Say”, dll. Dari 15 setlist lagu, The USED memang lebih banyak menghadirkan lagu dari album terbarunya, a.l: “Liar, Liar (Burn in Hell)”, “Paralyzed”, “Pretty Handsome Awkward”, “Wake the Dead”, “Hospital”. Termasuk 2 lagu (“Sun Comes up” dan “Pain”) dari EP Shallow Believer yang baru dirilis Februari kemarin.

Mengenai rilisan rekaman, The USED juga terbilang cukup produktif. Tahun ini pun mereka lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan materi untuk album (penuh) keempatnya, bahkan demonya sudah direkam sejak Januari sampai Maret kemarin. Rencana album baru nanti akan dirilis akhir 2008 (yang mungkin) berbarengan dengan DVD terbarunya. So, just wait for it.

Baca di sini........

Pemahaman tentang EMO

3 hal pemahaman tentang EMO

(1) Sebagai suatu genre musik, emocore termasuk musik yang agak terlambat masuk ke Indonesia, dimana sejak awal kemunculannya, pada tahun 1984, baru saat sekarang ini emo muncul sebagai jenis musik yang sangat banyak diminati, baik di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Medan, Kalimantan, Sulawes, dsb. Genre Musik ini, sebagaimana genre musik lainnya sangat mustahil muncul dengan sendirinya. Semua aspek budaya manusia, termasuk di dalamnya hal ini, emo, punk, metal, hardcore, rock 'n' roll, sangat bersifat 'dialektis', yang artinya terbentuk dari berbagai pengaruh budaya lain yang sebelumnya dan saat itu, ada. Tidak dalam hal style dan audio-visual saja, tapi secara ideologis, musik sangat besar dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial subjek di sekitarnya, jika kita lihat akar musik underground di dunia, semua berasal dari satu moyang, jazz, blues dan klasik. Dan corak masing-masing generasi dari genre musik tersebut, sangatlah berbeda satu sama lainnya, sesuai dengan kondisi zamannya, dan poin inilah yang akan saya jelaskan di poin ke-3 di bawah.

(2) Sebagai suatu komunitas, kesamaan hobi dan selera dalam musik, dalam hal ini, emo-core, screamo, dsb. mendorong suatu pergerakan sosial yang secara informal, mengumpulkan masyarakat muda untuk tergabung dalam even-even musik khusus, melalui media langsung dan tidak langsung menyatukan para individu yang berlatar belakang beda-beda dalam satu kesamaan hobi; all stuffs around emo. Atau sebagai contoh di Indonesia ini, kita mengenal suatu komunitas musik progesif rock yang bernama 'Indonesian Progressive Society' (IPS).

(3) Sebagai suatu fenomena perubahan sosial, di sinilah yang paling menarik. Sejak kemunculan 'Emo' dalam belantika musik di Indonesia, khususnya di generasi masyarakat Indie, kehadiran genre musik dan style dari Amrik ini membawa angin kontroversial yang cukup besar (bisa jadi hanya dibesar-besarkan, atau memang betul-betul besar dari sananya). Mengapa? karena berdasarkan fakta dari observasi saya, banyak diantara mereka yang menyukai 'musik emo' tapi di sisi lain, mereka membencinya hanya karena faktor 'fashion' (kulit luar)-nya saja, yang pada akhirnya bercampur aduk dengan penafsiran yang 'abstrak' dan akhirnya, melahirkan apresiasi musik yang abstrak pula tanpa ada kesimpulan objektif yang nyata dari jenis musik tersebut.

Baca di sini........

Awal mula EMO

Awal mulanya

Sebenarnya susah juga untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri seperti apa. Ironis memang, padahal kita gampang banget menstereotipkan seseorang sebagai emo kids tapi di sisi lain susah banget buat kita untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri.

Anyway, basicly kata emo didapat dari kata “Emotional”, dan musik ini awalnya merupakan salah satu anak-an dari musik punk. (pasti lo tau lah). Umumnya sih, dituangkan ke dalam lirik yang emosional cenderung cengeng, melodius, puitis dan dibalut dengan teriakan-teriakan luapan emosi, terutama emosi yang tak terbendung setelah band metal anda selalu gagal lolos di audisi acara-acara sunatan massal. (hehehe, tae ah!)

Genre musik ini tuh mulai berkembang di akhir tahun 80an dan awal-awal 90an, sebagai sesuatu “label” yang awalnya diberikan kepada band punk di Washington DC saat itu, yang notabenenya memiliki permainan gitar lebih keras dari kebanyakan band punk. Dan alhasil genre musik ini dikenal sebagai musik “DC Punk”.

Pada tahun 1984 sejarah mencatat band hardcore-punk Hüsker Dü, sebuah band yang memberikan influence yang kuat pada band DC Punk lainnya kayak Faith, Rites of Spring dan Embrace. Merilis album keempat yang bertitel “Zen Arcade”. Album inilah yang menjadi sebuah album legenda saat itu.

Untuk informasi Embrace sendiri adalah band yang dibentuk oleh Ian MacKaye, yang sebelumnya menjadi vokalis band kenamaan Minor Threat.

Sementara itu di sisi lain, walaupun Rites of Spring berhasil menghasilkan sebuah full album dan satu EP, band ini tidaklah bertahan lebih dari 2 tahun. Dan sebagai seorang rockstar, lead vocal Guy Picciotta merasa terpanggil untuk membentuk sebuah band baru lagi bernama Fugazi, yang nantinya band ini menjadi salah satu pionir di perkembangan musik emo.

Kekompleksan musik plus vokal yang intens dan juga penulisan lirik yang introseptif menghasilkan evolusi Emo dari tahun 1982 - 1992 dengan band–band seperti INDIAN SUMMER, MOSS ICON, POLICY OF THREE, STILL LIFE dan NAVIO FORGE.

Dinamika ‘kekerasan’ sering terdengar dari grup–grup tersebut yang akhirnya melahirkan band-band pioner baru Emo di evolusi berikutnya, yakni SAETIA dan THURSDAY di tahun 1997. Secara vokal, band tersebut memiliki style Emocore, dengan ciri terlalu sering memunculkan suara tangisan atau malah teriak penuh penyesalan.


Perubahannya

Walaupun influence dari Fugazi dan DC sound sangat substansial, sepanjang kita tahu, musik emo sekarang tidak semata-mata terbentuk hanya dari hardcore scene. Karena dengan seiringnya bergesernya jaman, para musisi emo lainnya memunculkan musik emo dengan gaya yang lebih “lembek”.

Anehnya lagi, emo malah menjadi musik yang lebih lambat seiring dengan munculnya band seperti Sunny Day Real Estate (Seattle) dan Mineral (Texas). Mereka mencampurkan komposisi musik yang lebih lambat, lembut, gaya yang emosional, menggabungkan sound emocore dari Rites of Spring dan inovasi musik Post Hardcore ala Fugazi.

Range musik ini pun makin luas seiring dengan suksesnya band-band macam At The Drive In, Jimmy Eat World, The Get Up Kids dan Thursday. Media mainstream pun makin tertarik untuk membahasnya dan hal ini pulalah yang membuat musik emo semakin pop (baca:populer).

The Used, Finch, Story of the Year, Funeral for a friend, sampai band emo akustik macam Dashboard Confessional dan Bright Eyes yang santer terdengar saat ini jelas menjadi suatu contoh yang signifikan dimana musik emo menjadi lebih pop.


“Hey They’re Not Emo, dude!”

Lebih gilanya lagi, saat pionir-pionir lama band Emo angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa kebanyakan band-band yang terlanjur dan mencap dirinya sebagai band emo tidak mempunyai ciri khas sebagai band emo. Nah lho! Tapi yang jelas sih walaupun band-band tersebut dibilang bukan sebagai bagian musik emo oleh para pencetusnya. Tapi tetep aja mereka disebut sebagai band emo oleh para fans, terutama oleh media-media mainstream yang ada.

Yang jelas fenomena genre Emo ini akan terus berkembang seiring terus berjalannya tingkatan depresi yang ada. Sebab pada dasarnya semua musik yang ada selalu mengalami perkembangan, dan sebisa mungkin menghindari stagnansi. Apalagi karena para artisnya selalu ingin mendobrak batasan-batasan yang ada, they always striving to be different, striving to be original. Dan tidak ada seorang true musician yang ingin “ put in a box” mereka selalu ingin “out of the box”.

Itulah sebabnya banyak juga band-band yang menolak terjebak di dalam stereotip “emo”, mereka menolak untuk di”label-kan”sebagai sebuah band emo, contohnya band-band seperti Jimmy Eat World dan At the Drive In (bubar).

Baca di sini........

Template by:
Free Blog Templates